Levitasi Hore, Sapu yang Teraniaya

Tags

, ,

Azka, bungsu saya yang menyukai film-film kartun dan superhero yang penuh fantasi adalah inspirator tercetusnya ide gokil ini. Awalnya, dia suka bermain sendiri dan pura-pura terbang dengan sarung kecilnya. Sebagai bapak yang masa kecilnya kurang bahagia pengertian, Bapadug ingin sekali mewujudkan impian anaknya.

Berbekal kamera hadiah dari Kampret, apa yang diimpikan Azka tak lagi sekedar cita-cita. Sering denger istilah levitasi kan? Gugling di sini kalo mau tau lebih lengkapnya. Nah, levitasi adalah alat untuk mengejawantahkan apa yang diinginkan Azka. Yak, KAMI BISA TERBANG !!!!!

meski cuman dalam foto…. *nangis*

Pinginnya sih ya, pinginnya terbang sekeren mbak ini, tak ada rotan raam punjabi, gini aja kita dah hepi kok *tipe makhluk gampang puas*

DSCN1373

karena gaya tangan lurus ke depan ala Superman terlalu mainstream

@@@

Karena kami adalah keluarga yang latah solider, bapak, emak dan kakaknya pun ogah kalah.

DSCN1395

gempa lokal baru saja terjadi, sodara sodara!!!

DSCN1410

terbang sambil nonton tipi

DSCN1440

tegang amat mbak, kayak habis dilamar eyang subur #eh

@@@

Syukur Alhamdulillah, sapu yang teraniaya itu masih berfungsi sesuai khittahnya….

BUDINA

Advertisements

Rapid Fire Question

Tags

,

Sabtu hari leyeh-leyeh sedunia saya tiba-tiba diganggu oleh senggolan twitter dari seorang jajaka gak penting Bandung yang memberikan sederet pertanyaan bak soal ujian. Dari blog Hadi ini pula saya kenalan dengan nama “Rapid Fire Question”

Rapid Fire Question adalah kalimat yang meski saya gak ngerti isinya, tetapi terdengar keren apabila dimasukkan jadi judul di blog saya yang senyap ini. Sebagai orang yang latahan gak enakan, saya pun ikut terjerembab menjawab soal kuis yang (parahnya) tak berhadiah ini.

Pertanyaan wajib:

1. Nambah atau ngurangin timbunan buku?

Nambah sekaligus ngurangin.

Nambah kalo ada dana (yang mana sangatlah jarang) dan ngurangin buat disumbangkan ke yang membutuhkan. *terdengar sangat so(k)sial

2. Pinjam atau beli buku?

Beli.

Ada kepuasan saat beli buku, nambah koleksi di rak, meski akibatnya kudu nangis kelojotan di akhir bulan.

3. Baca buku atau nonton film?

Baca buku sambil nonton film. 

Gak bisa jawab bro, dua-duanya demen. Tapi kalo tetep suruh milih, saya mending TIDUR.

4. Beli buku online atau offline?

Offline. No reason

5. (Penting) buku bajakan atau ori?

Orisinil.

Yaiyalahhh, nyari cowok aja gak mau yang KW kan?

6. Gratisan atau diskonan?

Sebagai pejuang #PPG (Para Pencari Gratisan) tentunya prinsip saya cuma satu “Pantang Pulang Sebelum Dapat Gretongan”. Yak, gratis itu indah, sodara-sodara….

7. Beli pre order atau menanti dengan sabar?

Menanti dengan sabar.

Tak ubahnya waktu ditembak dulu, semua akan indah pada waktunya  #eaaaa curcol

8. Buku asing (terjemahan) atau lokal?

Lokal. Mikirnya gak kelamaan.

9. Pembatas buku, penting atau biasa aja?

Biasa aja.

Meski gak suka nglipet buku, saya suka ngapalin halaman terakhirnya. Walopun ujung-ujungnya banyakan lupa huehehehe…

10. Bookmarks atau bungkus chiki?

Ini hubungannya apa sih? *beda tipis emang antara polos dan oneng

@@@

Menjawab soalnya Yunika Umar :

1. Goodreads atau blogs?

Blog pastinya.

Tuh liat profil saya, I’m truly blogwalker. Lebih banyakan baca dan jadi silent reader.

2. Beli buku atau beli makanan?

Makanan.

Kalo buku bisa diganti dengan baca online.. kalau laper? mau mantengin instagram food sampe kenyang?

3. Membaca atau menghayal?

Menghayal itu sudah jadi hak milik saat “setoran” di kloset pagi hari. Kalau membaca, setiap saat…setiap waktu……….kuingat dirimu…. *java jive minded

4. Pergi ke mall atau baca buku di rumah?

Saya pilih baca buku di rumah *kekepin dompet*

5. Fiksi atau non fiksi?

Fiksi.

Suka terkagum-kagum sama yang bikin.

@@@

Masih belum cukup dengan 15 pertanyaan, saya masih dijejali dengan 5 pertanyaan tambahan, untung 5 terakhir ini isinya gosip banget, khas Hadi yang gaulnya kebanyakan sama emak-emak #eh…hihihihih

1. Facebook atau blog?

Udah dibilang saya blogwalker, masih nanya aja kayak pembantu baru..

2. Twitter atau facebook?

Twitter.

Berbagai alesan bikin saya males FB-an. Mungkin kalo disingkat menjadi satu kalimat, jawabannya adalah “udah lewat masanya”

*ini kenapa saya FB haters banget sih??

3. Film adaptasi novel atau film dengan cerita baru?

Cerita baru aja deh.

Kalau adaptasi novel males nyocokin. Ntar ujung-ujungnya spoiler lagi deh… #uhuk

4. Science fiction atau Romantic comedy?

Sebagai orang yang hopelessly romantic, Romantic comedy is the answer.

5. Indie atau mainstream?

Dalam hal apa dulu nih? Tapi btw, mainstream lebih aman.

@@@

Berhubung udah 20 soal, kebangetan aja kalo mau nambahin lagi. Tongkat estafet kuserahkan pada nyonyah ini saja : @ichoahmad.

Monggo dijawab pertanyaan diatas …tareeekkkk maaaaaaaaaang

Jangan lupa sertakan link ke mba @Riatumimomor , @hadisome dan mba @ikmar yaaaaa.

BUDINA

Harlem Shake Bapadug

Tags

, ,

Habis Gangnam Style, Terbitlah Harlem Shake

Begitu kira-kira peribahasa wabah tari-tarian yang menjadi meme setelah era Youtube. Youtube memang biang segala artis dadakan yang muncul dari sekedar niatnya cuman iseng sampe emang yang pingin eksis segala rupa.

Balik lagi ke masalah tarian di atas, kalo Gangnam Style jelas official videonya dari mana, tetapi Harlem Shake saya cukup telat tahu-nya. Dari youtube-ing di internet, saya juga gak ngerti yang mana official videonya, tau-tau udah hebooooh aja gitu.

Awalnya Lala, si sulung saya yang pingin dibikinin video itu sama temen-temen mainnya. Apa daya, saat temen-temennya ngumpul, kamera belum di charge, sebaliknya, saat kamera on fire, temennya pada gak ngumpul. Jaka Sembung main karet, gak nyambung pret….!!

@@@

Pada sore di hari libur yang cerah, si Bapadug, suami saya tercintah punya ide untuk bikin video Harlem Shake. Sebagai anak dan bini yang asik, maka dengan antusias terpaksa kami menyetujui ide-nya.

Kerempongan menyiapkan dandan cuman sebentar kok, hanya memakai segala atribut yang terlihat sepelemparan mata (loh!#$$^). Tak perlulah dijelaskan bagaimana kronologinya, yang jelas aksi dibawah ini telah menunjukkan bahwa kami adalah keluarga yang kurang kerjaan gaul.

Harlem Shake sama temen??? ah…so last year !!!

Kantin Murah

Tags

Beberapa teman memberi merk di jidat saya sebagai “pelit”. Sebelum saya tersungging senyuman, di otak saya berderet kata yang memiliki arti yang sama. Ada “hemat”, “irit”, “perhitungan”, “tidak boros” dan “pelit”. Entah kenapa kasta terendah disandang oleh kata “pelit”. Ingat, dalam kata tak ada kasta. Kasta hanya boleh dimiliki oleh gigi. KASTA GIGI *dagelan lawas, plesetan

@@@

Nah, kalau yang ini cerita waktu saya masih menjadi mahasiswi. Sebagai anak kost, mengeluarkan modal sekecil mungkin dan memperoleh laba sebesar mungkin telah merasuk ke dalam jiwa raga kami. Prinsip ekonomi itu begitu teguh kami pegang (tapi tidak dengan nilainya, hehe) sampai kelak menuju gerbang kedewasaan.

Tak heran waktu itu warung makan sejenis “BAHARI, “BAROKAH”, “TEGAL JAYA” begitu melekat di hati. Selain karena persamaan selera lidah, persamaan bahasa memegang peran penting dalam proses meminta jatah lauk lebih *niat*, dan yang terutama…BISA NGUTANG (itu bukan saya). Dompet kami tak kenal dengan yang namanya “SALERO MINANG”, “ANDALAS”, “SIMPANG RAYA” dan semacamnya. Kalau nekat makan di situ melulu bisa-bisa gak ada jatah nonton sama pacar tiap malam mingguan (halah!).

@@@

Nahh…kalo di kost-an putri tempat kami, info dibukanya warung makan yang baru pasti jadi cerita yang menarik.

“hai sis (cieh gaya)……. ada kantin baru tuh…” kata seorang teman mengabarkan

Dan pertanyaan berikut yang pertama muncul bisa dipastikan adalah….

“MURAH GAK???”

Ehm…dibandingkan pertanyaan seperti “dimana?”, “enak gak?” dan lain-lain, kata itu menjadi keywords untuk melanjutkan pertanyaan selanjutnya…

“murah kok, nasinya gak dihitung…” kata teman tadi, menambahkan.

Berbondonglah kami cewek-cewek cantik ini menuju tempat yang dimaksud. Setelah ritual makan selesai, kami menuju ke area paling tak mengenakkan, tempat kasir….satu persatu kami mengantri untuk membayar…

Kebetulan saya ada di giliran pertama…

“jadi : nasi, sayur asem, tempe, perkedel, telur bulet, kerupuk dan es teh manis (ebuset, ini makan apa kalap?) total sekian ribu sekian ratus rupiah” kata mbak kasir, mantap

“loh mbak, katanya nasinya gak dihitung?” saya protes

“lah, ya gak dihitung, coba mbak sekarang hitung nasinya satu persatu, bisa lebaran kucing mbak bayar ke saya…” jelas si mbak, guyon.

*Teman-teman di belakang saya ngikik penuh kepuasan*

Sungguh lawakan yang terdengar sangat tidak lucu saat saya harus mengeluarkan uang ekstra….

@@@

Tunggu, perang belum usai. Batas juga ada sabarnya. Masih ada kok cerita satu lagi…

Masih cerita masa kuliah. Ini perbincangan antar cowok. Pacar (sekarang suami) *diperjelass* memberitahu temannya bahwa ada sebuah kost-an baru dimana pemilik kost selain memiliki penyewaan kamar juga mempunyai warung makan. Sebut saja nama warungnya “Yu Nani” (bisa dibaca sambung biar keliatan keren).

Bro, denger-denger kost di Yu Nani MURAH loh…” kata pacar

“Oh ya? apalagi dia punya warung makan ya, bisa makan di dalam tuh, gak usah pusing cari makan di luaran” tukas temannya yang lain, excited

(Just info : istilah makan di dalam berarti pemilik kost juga menyediakan makan bagi penghuninya)

“Iya murah, kost disana makan di dalam cuma sekian puluh ribu rupiah sebulan loh…” semakin berapi-api sang pacar

“Ahhh yang bo’ong??” teman-temannya tak percaya

“Iya, sekian puluh ribu rupiah sebulan, MAKAN DI DALAM, TIDUR DI LUAR….”jawab pacar, gokil.

*sandal jepit swallow pun berhamburan ke hadapan pacar*

-Budina-

Street Food Indonesia, Bukan Sekedar Kuliner

Tags

, , , ,

WISATA KULINER

Singgah ke suatu daerah, rasanya kurang lengkap tanpa mencicipi makanan khas daerah tersebut. Negara Indonesia yang terdiri dari beberapa pulau yang masing-masing terpisah oleh laut ini memiliki keanekaragaman yang luar biasa biasa. Begitu banyak dan beragamnya daerah di Indonesia, sehingga masing-masing makanan tradisionalnya juga punya keunikan tersendiri.

Bagi pendatang, mencicipi makanan baru tentu akan menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan. Disitulah hadir istilah WISATA KULINER. Beragam pilihan tempat dan masakan ditawarkan untuk memenuhi hasrat icip-icip tersebut. Bila memiliki budget lebih, bisa tak ada salahnya mencoba mampir ke sebuah restoran dan mencoba berbagai masakan. Bagaimana bila bila dana pas-pasan? jajan di pinggir jalan adalah jawabannya.

Laksa Gang Aut, Bogor

Laksa Gang Aut, Bogor

MENGAPA ADA STREET FOOD ?

Street food atau jajanan pinggir jalan akhir-akhir ini semakin booming dan menjadi trend. Selain karena faktor utama yaitu harga yang terjangkau, banyak alasan mengapa masyarakat sekarang lebih suka jajan di luar. Tak punya keahlian memasak, alasan kepraktisan karena tak sempat memasak, hanya memuaskan keinginan saja dan masih banyak alasan lain. Meskipun higienitas sempat menjadi isu utama timbulnya penyakit, tapi itu tak menyurutkan minat masyarakat untuk tetap jajan di luar.

STREET FOOD TAK LAGI KELAS DUA

Kalau dulu jajanan pinggir jalan seperti ditujukan untuk masyarakat kelas dua, sekarang arah angin sudah berputar haluan. Pernah dengar yang namanya nasi kucing? Nasi dengan porsi yang sedikit dengan lauk sederhana ini biasanya dijual di angkringan untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. Biasanya dijual di malam hari, agar mereka yang mencari nafkah tengah malam tetap bisa mengisi perut apabila lapar melanda. Sekarang, nasi kucing tetap dijual di pinggir jalan, tetapi konsepnya sudah mulai berubah. Angkringan ditambah dengan fasilitas wi-fi, membuat anak muda betah hang out di sana.

Kue Bantal dan Cakue

Kue Bantal dan Cakue

STREET FOOD SEBAGAI TEMPAT BERGAUL

Pemilik mobil pun sudah tak malu lagi jajan di pinggir jalan. Tak ada bangku tersedia, mereka rela makan di atas mobil. Berbaur dengan masyarakat kelas bawah, street food tak ubahnya seperti alat pelebur kesenjangan status sosial. Di beberapa daerah di Indonesia seperti Aceh, kedai kopi adalah tempat dimana orang bisa berbaur, menyatu, memperbincangkan apa saja, dari keseharian termasuk hal yang berat seperti politik. Dari situ timbul yang dinamakan dengan obrolan warung kopi.

TRANSMIGRASI KULINER

Kembali ke jajanan tradisional, ada yang bilang bahwa makanan kampung halaman itu ngangenin. Pengusaha yang jeli tentunya tak akan menyia-nyiakan peluang ini. Bisnis transmigrasi kuliner pun dilakoni. Demi melihat tak ada Gudeg seenak daerah asalnya, mereka membuka warung Gudeg di Jakarta. Bagi konsumen, ini jelas menguntungkan, tak perlu jauh-jauh pergi ke Yogyakarta, dengan makan makanan klangenan, kangen pada kampung halaman sudah sedikit terobati. Kuliner nostalgia, begitu istilahnya.

Seupan Tales Ketan Wangi, Jl. Suryakencana Bogor

Seupan Tales Ketan Wangi, Jl. Suryakencana Bogor

INOVASI DAN BRANDING

Dulu, pedagang makanan tradisional juga tak mengerti nilai tambah dari jualan mereka. Mereka menjual makanan itu dengan apa adanya. Contohnya adalah Lekker dari Semarang. Makanan seperti crepes ini awalnya hanya berisi pisang dengan campuran gula, coklat meses dan sedikit susu. Dipanggang di atas wajan kecil dengan anglo panas, dijual dengan gerobak dorong sederhana dan hanya dapat ditemui di bundaran Simpang Lima Semarang pada minggu pagi. Sekarang, penjual sudah tahu apa itu inovasi. Lekker yang tadinya sederhana, sekarang ditambah dengan berbagai varian rasa. Penambahan keju, saus kacang, nangka dan sebagainya memberikan banyak pilihan untuk pembeli. Bagi penjual, adalah keuntungan bagi mereka karena bisa menjual produknya dengan harga lebih tinggi. Tak hanya soal rasa, pemberian brand dari produk dan penentuan tempat pun lebih mereka perhatikan. Dengan brand yang eye catching dan mudah diingat, produk mereka lebih mudah dikenal. Pembeli juga lebih mudah mencari bila tenda tempat mereka mangkal mudah ditandai.

Kue Rangi dan Kue Pepe, Jl. Suryakencana Bogor

Kue Rangi dan Kue Pepe, Jl. Suryakencana Bogor

MEDIA PROMOSI

Promosi yang dulu dilakukan hanya dari mulut ke mulut, sekarang sudah bukan masa nya lagi. Melalui internet, pedagang pintar berpromosi melalui sosial media, forum-forum milis, blog dan sebagainya. Dengan hanya sekali klik browsing di dunia maya, informasi yang konsumen cari tersedia di depan mata.

KONSEP DELIVERY SERVICE

Kepingin jajan tapi males ke tempat tujuan? Tak ada hal yang tak mungkin. Jajanan bisa dipesan dengan cara delivery service. Jangan salah, ini bukan hanya berlaku untuk street food yang mangkal . Untuk pedagang keliling yang mencari pasar dengan cara menjemput bola dengan mendatangi konsumennya, meski tak semua, beberapa dari mereka ada yang pintar menangkap situasi. Dengan meninggalkan nomer handphone mereka kepada konsumen, saat diperlukan mereka bisa datang sewaktu-waktu. Sungguh konsep delivery service dalam arti yang sebenarnya.
STREET FOOD IMPOR TURUN KASTA?

Bagaimana dengan bisnis street food makanan impor? Kebalikan dengan jajanan tradisional yang naik kelas, makanan impor sekarang lebih down to earth. Dengan menurunkan sedikit eksklusifitasnya, mereka turun ke jalan untuk mencari pasar yang lebih luas. Banyak makanan impor dijual di pinggir jalan dan dibeli oleh berbagai kalangan. Turun kasta? tidak juga. Sebagaimana hukum pasar berlaku, ada permintaan maka ada juga penawaran, penjual dan pembeli saling membutuhkan. Pembeli diuntungkan. Tanpa merogoh kocek terlalu dalam seperti biasa yang dikeluarkan saat di restoran, mereka bisa makan makanan impor sesuai keinginan.
Tak semua makanan impor sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia. Layaknya musik, kolaborasi kadang dibutuhkan agar harmonisasi tercipta. Dengan trik dan terobosan tertentu, padu padan makanan impor dengan bumbu khas Indonesia pasti memberi sensasi rasa yang tak biasa. Selain menekan budget, bagi pengusaha kemungkinan dagangan laku terjual ada di depan mata.

@@@

Bisnis kuliner adalah bisnis yang hampir tak pernah mati. Hilang satu, tumbuh seribu, makin variatif, makin inovatif. Selama manusia itu hidup, selama itu pula mereka membutuhkan makanan. Keberadaan street food dengan beragam keunikannya, akan terus membuat roda ekonomi Indonesia berputar.

Budina

Gagal Masak

Tags

,

Tersebutlah 3 onggok emak yang tergabung dalam perkumpulan Emak-Emak Dodol. Seperti biasa, kalau sudah ngumpul, woman’s talk tak lepas dari dapur, sumur dan  Eyang Subur kasur.

Sore itu, pembicaraan terarah ke dapur. Abaikan sementara soal keahlian memasak yang belum tentu sukses, ada baiknya sekarang kita fokuskan pada hasil memasak yang gagal. Cerita dimulai dari seorang ibu muda omnivora sejati (apa aja dimakan, kamsudnya..)

 @@@

Cerita dari…sebut saja namanya BUNGA (mirip Pos Kota ya..)

“Kemaren itu gue ceritanya mau masak. Suami sebelumnya dah wanti-wanti, jangan masak macem-macem Mah, yang gampang aja. Gue iya-in aja biar cepet. Yang biasa-biasanya kaga pernah ke warung sayur, sekarang gue ke sana. Pulang dari warung, tetangga liat gue bawa ayam seekor, mereka nanya, mau masak apa bu? SOTO AYAM. Mantep jaya deh jawaban gue.

Berbekal resep contekan dari blog apaan tau, terjunlah ke dapur. Ayam direbus, udah, Bumbu diuleg, kelar. Gue cobain dong ya, kok asin. Gue buang tuh air separo, tambahin air lagi, kok masih asin. Gue tambahin gula, aduk-aduk, masih asin juga. Ini kok kayak garem sebalok dicemplungin ke air. Gue capek. Tuh ayam juga pasti capek. Mana rasa makin gak karuan…

Voila, ide brilian lewat sekelebatan, gue buang tuh kuah, ayamnya digoreng. Jadinya bukan SOTO AYAM, tapi AYAM GORENG

*kuah mana kuah??*

@@@

Cerita si RANTING

“Kalo pengalaman gue soal UNGKEP AYAM. Lagi sendirian di rumah sama anak, kayaknya enak nih makan ayam goreng. Ya udah gue cuma beli ayam sekilo di tukang sayur, karena bumbu semua lengkap di dapur.

Kalo loe pake gugling resep, gue gak. Nanya siapapun juga gak, gengsi ceritanya. Cuek aja tuh bawang, semua bumbu dapur dimasukin, porsinya banyak semua pula. Gak pake dicoba, ayam itu gue balur-balur semua dengan bumbu. Pas mau di ungkep, kok perasaan gak enak ya. Pas gue coba, RASANYA KAYAK JAMU!!!!

*Njonja Meneer tersenyum di ujung sana, telah lahir seorang penerus…*

“Daripada gak bisa dimakan, gue buang tuh bumbu, ayamnya dicuci lagi pake air keran. Gue lari lagi ke warung, beli BUMBU JADI. Tuh ayam diungkep lagi, dan sukses. Sukses ngelabuin orang rumah maksudnya….Dan sama seperti loe, tuh ayam juga pasti depresi.”

@@@

Cerita si DAUN

“Ah kalian payah semua, kayak gue dong jadi mantu idaman mertua….

Gue masak apa aja bisa, mau sayur lodeh..hayo, sayur asem…oke, rendang yang orang bilang susah…hajar bleh!”

BUNGA dan RANTING melongo dan kompak menyahut “Bagi resepnya dong….”

“ahhh, gitu aja kok repot, kagak perlu pake gugling atau nanya-nanya, norak itu mah.. Tinggal dateng aja ke warung terdekat..TRUS BELI BUMBU JADI….kelar urusan.”

*Yaelah Bu, dapet salam dari irisan bawang…*

  @@@

Pembicaraan penuh kedodolan ini pun diakhiri dengan kesepakatan bersama saat ditanyakan tentang hal berikut :

Question (Q) : “Dimanakah kalian membuang hasil kejahatan masakan yang gagal?”

Answer (A) : “DI PLASTIK WARNA ITEM, BIAR GAK KETAUAN…”

 *berasa buang bangke gak sih……*

Bener kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, pasti jatuh dari pohon juga. Serapet-rapetnya aib ditutupi, pasti diposting di blog.

Salam bumbu penuh nafsu dari murid chef Parah Quinn Banget

Budina

(Iseng) Main Kata

Tags

Yuk ah, kita coba main-main kata….

@@@

A : “ke sini tadi naik apa mbak ??”

B : “bawa motor…”

A : “weiiits…kuat amat yak, motornya dijinjing atau dipanggul?? bukannya dinaikin??”

@@@

Suami istri memperhatikan botol obat batuk milik anak mereka. Disitu tertulis **Tutuplah botol ini dengan rapat**

 Suami : “repot amat yak…mau nutup botol aja kita kudu rapat dulu…gak sekalian kerja bakti gitu???”

@@@

Kardun dan Romlah terlibat pertengkaran hebat. Romlah menuduh Kardun membohongi dirinya soal perjanjian hutang piutang

Kardun : “apa?? Loe nuduh gue mengingkari janji. Sori, pokoknya gue nggak terima…

Romlah : “Loe gak terima? Emang siapa yang ngasih loe??”

@@@

Karyawan : “Pak, saya ijin keluar makan siang ya…”

Boss : “Silakan, kasian amat kamu makan siang. Emang enak gitu?? Saya sih maunya makan nasi…”

@@@

Suami : “Mah, papah berangkat kerja dulu ya… cari uang yang banyak buat anak-anak…”

Istri : “kok dicari Pah, emang ada yang buang gitu??”

@@@

A : “Bang, saya pulang dulu ya…udah sore nih, mendung…”

B : “pulang sekarang kaleee, bukan pulang dulu…pulang dulu mah udah dari kapan tau…”

@@@

C : “ahhh…hujan nih…laperrr…aku makan snack dulu yaaa….”

D : “snack dulu? Gak kadaluarsa tuh…awas diare…..”

@@@

Di dalam kereta menuju arah pulang…

E : “turun mana mbak?”

F : “turun di stasiun mas…masak di pelabuhan??”

@@@

Di stasiun kereta menuju daerah Jakarta…

G : “Tanah Abang ada mbak?” –> sambil celingukan mencari kereta

H : “Ya ada lah….itu penjual baju pada dagang dimana kalo gak di Tanah Abang??”

@@@

Pengumuman di stasiun….**kereta arah Bogor masuk di Universitas Indonesia**

I : “Hebat yah tuh kereta….

J : “apanya yang hebat??”

I: “lah itu…si kereta gak pake tes UMPTN tau-tau bisa masuk ke UI”

@@@

 

Belum bosen? Saya udahhhh…hehehe….

Akhirul kalam…………….tepuk tangannya mannnnnaaaaaa??????

-Budina-

Beda Tipis

Tags

Hasil survey iseng-isengan saya membuahkan beberapa kata yang bisa dikategorikan hampir sama atau bila diistilahkan dengan kalimat gaul adalah..BEDA TIPIS. Bagi yang tidak setuju ya silakan, beda pendapat boleh kok, gak usah pake mengerahkan pasukan sakit hati…nenek bilang itu berbahaya heeeeeyyyyy…(Titik Poespa mode on). Tak usah berlama-lama, jadi ya monggo di cekidot :

· KREATIF vs KURANG KERJAAN

Kreatif adalah menuliskan sesuatu memakai data lengkap sedetil-detilnya umat. Ebujug, kalo udah nantang pake data yang sampe ngubek memperkosa ke kolong rumah mbah Google apa itu tidak bisa dikategorikan sebagai kurang kerjaan?

· SIBUK / TAK ADA WAKTU vs MALAS

Kalau saya tidak produktif menulis, seminggu hanya 1 atau 2 tulisan, itu bukan karena saya malas. Maaf, saya sedang sibuk, tidak ada waktu untuk nulis. Alasan yang terdengar sangat keren bukan?

· AKTUALISASI DIRI vs NARSIS

Internet dan Facebook adalah biang keladi munculnya makhluk hidup penganut narsis. Lagi seneng, nyetatus. Sedang G4L4U, tuliss. Sebel sama temen, eh bukannya ditegor, curhat lagee. Belum lagi yang umbar foto ke segala penjuru. Lagi piknik di situ, upload. Reuni ngumpul temen, pajang. Berasa eksis di dunia maya. Yang tadinya kuper sekarang keblinger. “Aktualisasi diri cuy”. Begitu alasannya.

· REALISTIS vs MUDAH MENYERAH

Mau cari tambahan penghasilan, mau cari jodoh, eh males-malesan. Alasannya klasik “Rejeki dan Jodoh ada di tangan Tuhan, saya mah orangnya realistis aja”.

· SIMPEL vs MALAS

Kalo saya gak mau repot-repot banyak dandan, pake asesoris macam-macam, dan gak harus bikin orang nunggu, itu karena saya adalah orang yang simpel.

· IMAJINASI TINGGI vs OTAK NGERES

Seorang teman sekolah saya sering dijuluki omes (otak mesum) karena daya tangkap dalam hal begituan-nya jauh melebihi kecepatan cahaya. Pelajaran biologi terutama reproduksi adalah satu-satunya hal yang disukai. Bila guru menerangkan dan dia terdengar ngikik sendiri, itu artinya dia menangkap sesuatu yang sangat special. Yak, dan saya banyak belajar darinya hehe…

· SETIA vs GAK LAKU

Dalam hubungan asmara, saya adalah penganut kesetiaan tingkat dewa. Meski dalam tahap pacaran, saya tak bisa berpindah ke lain bodi. Entah kenapa. Mungkin karena tidak laku? Bisa jadi.

· SAYANG vs TAKUT PASANGAN

Teman saya adalah seorang suami yang selalu menyetor semua gajinya tanpa kecuali dan tak meninggalkan sepeserpun untuk dirinya sendiri. Untuk hal ini dia selalu menandaskan “ini karena saya sayang istri”

· PATUH vs TAKUT PASANGAN

Teman wanita saya selalu mencak-mencak bila mengajak saya makan saat pulang kerja atau akhir minggu.

“Din, udah diajak, ditraktir pula, masih gak mau juga??? Susah amat sih? Takut sama suami ya??”.

Sebagai tukang ngeles profesional hanya menjawab kalem

“ Maaf, dalam rumah tangga tak ada kamus takut, saya hanya patuh, catet!”

· MULTITASKING vs MAIN SIRKUS

Perempuan adalah juaranya soal multitasking. Sambil masak, nonton sinetron. Sambil nyuapin, ngerumpi dengan tetangga. Sambil nidurin anak, bisa facebook-an. Yang lebih parah lagi, ada yang semua indera-nya bisa bekerja, mata melototin monitor, tangan kanan pegang mouse, tangan kiri mbolak mbalik buku, bahu kanan menjepit gagang telpon, kemilan di pangkuan. Yak…sedapp…ini sih akrobat namanya.

· EX dan FX

Saya gak ngerti kenapa pengembang mall di Jakarta kurang kreatif dalam hal penamaan gedung. Perbincangan di twitter ini adalah salah satunya :

 

A : “eh, FX itu yang di sebelah Sarinah ya?”

B : “FX itu yang di Senayan, deket pintu gerbang GBK..”

Sebagai seorang tukang cela bin tukang samber, gatel aja dooong pingin nimbrung…

Dina : “yang di sebelah Sarinah itu EX dodoool…”

C : “EX itu deketnya Grand Indonesia, kalo deket Sarinah namanya Djakarta Theatre..”

Jengjengjeeeeeng…dan kepongahan manusia sotoy itu pun ambruk tak berbekas…..

Pelajaran : baca peta kalau mau nyela

 @@@

 

Sebenarnya kalau mau di list bisa sepanjang jalan bikinan Daendels. Daripada ntar bosen, mari kita sudahi hubungan kita sampai disini…

“elooo…..guwehh….wiss !!!”

Yiiiuuukk cyiiiin capcussss *tangan mengepal ke udara*

(Kemenglish) Typo, Homofon dan English Ngawur

Tags

,

Kalau postingan sebelumnya saya membahas tentang pelafalan atau dalam bahasa enggres-nya pronounciation, sekarang kita menginjak ke pelajaran berikutnya, yaitu typo atau typographical error

Kenapa saya tiba-tiba membahas ini?? Ceritanya waktu itu saya kesambet pingin nengok temen lama saya, Mas Ef Be. Nah, di dinding FB yang dari kapan tau warnanya gak pernah dicat ulang itu, saya melihat profil teman berdua dengan pacarnya. Ada beberapa komen di bawahnya, tapi mata saya menangkap (jaring kaleeee nangkep) komen pertama…

“Ihirrrrr, SO SWEAT banget sih…”

 

**Sepertinya si mbak komentator itu sering pake SWEETER kalo lagi dingin….**

 Ahh…saya gak mau suudzon, mungkin si mbaknya itu salah pencet keyboard, atau kalo gak, huruf E nya sudah habis sehingga diganti menjadi A (emang rugos??). Jangankan dari arti, dari pengucapannya saja SWEET dan SWEAT jelas berbeda.

 

@@@

 Dari chat dengan seorang teman  saya mendapatkan quote sakti ini:

“Gak harus jadi fotografer untuk bisa tau ANGEL yang bagus”

**catet : ANGEL yang ini bukan putri Indonesah yang lagi dipenjara**

 Ah, itu masih belum seberapa, nih ada lagi :

 

GOOD Bless You All

What The HEAL!!” –> akibat terlalu napsu marah-marah

Ehm…nganu…namanya juga typo Din,  ya dimaklumin dong, gak sengaja itu… –> iya deh…iya

 

@@@

 

Kalo di atas saya tulis tentang typo yang pengucapannya jelas jauh berbeda. Bagaimana dengan homofon : 2 kata yang pelafalannya sama tapi tulisan dan maknanya berbeda? Ini lebih banyak lagi terjadi. Tenang saja, kosa kata saya masih banyak kok hehehe…

 

“May He Rest In PIECE

DATELINE-nya kapan sih?? Jangan mepet-mepet yaaaa”

Shut Up You BEACH !!” –> upssssss, kulari ke pantai….

“Presentasi loe sukses?? You ARE ROCK, Maaan!!” –> disumpahin jadi batu

“Saya balikan lagi sama dia. I give him a second CHANGE” –> awas berubah jadi satria baja hitam

13304030141707096044

 @@@

Begini loh yaaaa, saya nulis ini bukan karena saya pinter English. Lah, bahasa ini bukan bahasa ibu saya kok. Soal penggunaannya dalam kalimat, saya juga hanya sediiiikiiiit banget tahu. Cuma, mungkin karena saya punya sixth SAINS#eh..maksudnya indra keenam, saya ngeh kalo ada yang rada janggal.

Saran saya sih cuma satu ya… kalo mau nulis kata dalam bahasa enggres itu mbok iyao jangan kepedean, kalo gak yakin ya gugling dulu kek, buka kamus kek, primbon kek. Jangan sampe sok-sok keminggris di sosmed, dibaca sejuta umat, terus ujung-ujungnya diketawain komodo.

Sesungguhnya tulisan ini adalah klarifikasi kenapa saya tak pernah nulis dalam bahasanya Pangeran William.

Budina

(Kemenglish) Tentang Pelafalan

Tags

,

sewaktu SD, saat bahasa yang saya kenal hanya bahasa Indonesia dan Jawi, saya suka merhatiin poster Bruce Lee yang terpampang di dinding kamar Om saya di rumah mbah. Saya masih inget fotonya : pake celana panjang hitam khas baju kungfu, telenji dade (sayangnye kerempeng *dikeplak fansnya*) dan kedua tangan menggenggam posisi siap2 bertarung.

Koh Brus Li (courtesy of : daigo.org)

Koh Brus Li (courtesy of : daigo.org)

Dina : “Om, BRU CE LE’E itu siapa sih??”.

Om : “Bru Ce Le’e?? heh, itu BRUS Li…Nok, temen Om waktu SD”

Begitu kata Om saya tak kalah ngawurnya waktu saya tanya tentang foto siapa yang mejeng di kamarnya.

@@@

Saat beranjak dewasa, setelah mendapat pelajaran berbahasa bule, di situlah saya baru tahu kalau tulisan dalam bahasa Inggris tidak dilafalkan sama seperti kata yang tertulis dalam bahasa Indonesia. Kalau dalam Bahasa Indonesia tertulis “MAKAN” ya dibaca “MAKAN”, dalam bahasa Inggris tertulis “HOUR” tetapi dibaca “AWER”. Lumayan susah bagi saya yang terlalu memegang kuat tradisi jawa (baca : ndeso) ini untuk belajar beradaptasi dengan hal itu.

Akibatnya, setiap saya melihat tulisan berbahasa Inggris, saya hantam kromo saja melafalkan kata tersebut berbeda dari tulisannya.

Temen : “Din, punya email kan?”

Dina : “Punya, kemaren habis dibikinin temen, email YAHU”

Temen : “Yahu? YAHO kaliii” (maksudnya YAHOO)

Dina : “Iya pokoknya itu” *salah ra gelem ngalah*

Berikutnya :

Temen : “Jaman sekarang sering banget anak sekolah di BALI ya Din..” (sambil nunjuk internet)

Dina : “Halah, gak usah sekarang, jaman dulu juga waktu SMA aku pikniknya ke BALI”

Temen : “Woy, siapa yang ngomongin Pulau Dewata, ini gue ngomong BALI…. (nunjuk lagi ke internet, tertulis “BULLYING”)

Dina : “wooo pantess….itu bacanya BULI cuy, bukan BALI….”

(padahal #barutau dari lagu Sm*sh, Senyum Semangat)

Dan yang lebih parah lagi ini :

Dina : “lagunya MAIKEL BABEL yang HOME itu enak ya ternyata…”

Temen : “loe kate permen karet… BABEL GAM?? Bacanya MAIKEL BUBLE tauuu..”

Dina : *menghambur ke pelukan JESEN MIRAS* –> maunya

Bukan produsen permen karet (courtesy of : mix967.ca)

Bukan produsen permen karet (courtesy of : mix967.ca)

@@@

Itu masih kata dalam bahasa Inggris beneran ya? Bagaimana dengan brand? Merk terkenal suatu barang? Tahu sendiri kan trendsetter mode banyak berkiblat di Paris, daerah yang bahasa resminya jelas-jelas bukan bahasanya Ratu Elisabeth.

Nah buat para perempewi, jangan ngaku jetset kalo punya mampu beli barang tapi ngelafalinnya kesusahan sampe lidah kegigit. Jangan sampe deh merk “PEUGEOT” dibaca “PIJET”. Mau nyebut “CARREFOUR” jadi “KER FUR”.

Sekali lagi, itu malu-maluin neng-neng manis abang sayang…belum lagi nyebut HERMES persis tulisannya, HERMES, mau ke warteg mbak, beli nasi rames?? Hihiihii…

Trus..mau tau pelafalannya gimana?? Maaf, saya bukan mbah Jenggot yang tau segala, jadi….GUGLING dong GUGLING….

Budina