Tags

,

Dari hasil blogwalking kemaren, saya mampir ke lapak Mbak Okke. Meski sekian lama menjadi silent reader, di postingan [Tags!] Kasih Tau Nggak Ya? saya pingin ikutan beropini tentang bagaimana ber-socmed, bersosialisasi melalui media. Hampir semua poin dari Mbak Okke saya setujui, untuk itulah disini saya cuma mau curhat. Maaf ya mbak, saya numpang curhat 😉

@@@

Dulu banget, saking gak pernah ketemu teman-teman lama, saya search nama mereka di friendster. Niat banget meski ujung-ujungnya gak ketemu 😦 . Entah FS saya gimana kabarnya, username-nya aja lupa.

Next, ketemu yang namanya Facebook. Ada masa euforia ketemu teman-teman lama, kangen ber-boso jowo sama mereka, update status tiap hari, pasang foto2 keluarga (sampe anak nungging pun di upload, pfft!), apapun !!!

Yang paling enggak banget adalah, saat saya jatuh dan terluka di pelipis karena keserempet motor, foto luka-luka nya saya upload di FB ! 😦 Itu niatnya buat apa coba??? Duh, nggilani banget!

Yes, semua akan kelihatan alay pada waktunya–

@@@

Semakin dewasa ke sini, saat pengguna FB makin banyak, saat timeline saya penuh dengan hiruk pikuk kegiatan teman, foto, umpatan, doa, becandaan atau apalah, akhirnya saya sampai pada tahap capek sendiri.

Foto anak-anak saya hapus (saya tinggalkan beberapa) gara-gara tersiar kabar penculikan anak karena FB. Update status yang tadinya sehari sekali, sekarang sudah tidak pernah lagi. Semua data-data diri hanya tertinggal tanggal lahir meski sebelumnya pernah saya hapus (Ahey, diucapin “met ultah” asyik juga ternyata!)

Gara-garanya, dengan FB saya jadi kepo melihat profil teman lama saya, membandingkannya antara gimana dia dulu dan sekarang. Melihat saja tak mungkin tanpa membatin ini itu kan ya…. Selainnya, ada saudara yang saya kenal secara nyata fine-fine aja. Intinya, positiflah kesan saya tentang dia. Dan, hasil kepo saya di FB membuat kesan saya ke dia berubah. Dari positif menjadi negatif karena satu atau lain hal.

Sejak itu saya jarang membuka FB, karena, saya tak mau diperlakukan serupaDi-kepo, di-stalk, diubek-ubek isi perut, maaf, saya tidak rela.

IYA, SAYA BELUM SIAP JADI ARTIS 😆 😆

Lelah juga karena di timeline, saya seperti dipaksa melihat apa yang mereka lakukan, mereka ada dimana lalala lilili. Owh, publik figur aja sebisa mungkin dia tak mau di oprek-oprek kehidupan pribadinya (perkecualian artis infotainment sih 😆 ), ini kita yang “bukan siapa-siapa” pingin banget nunjukin ke publik semua isi perutnya.

Sampai sekarang, akun FB saya masih aktif. Iya, meski saya ogah di-kepo, tak bisa memungkiri, suatu saat saya butuh mereka. And vice-versa.

Untuk socmed, saya lebih memilih twitter. Entah kenapa di dunia maya, saya lebih nyaman dengan circle pertemanan baru saya dibanding teman lama, saudara, tetangga dll. Biarkan teman-teman nyata tetap menjadi apa adanya. Tak kurang, tak lebih.

Meski di twitter banyak juga yang nyinyir, rusuh, curhat dan nyaris tak jauh beda dengan FB, tapi saya suka dengan keterbatasan 140 karakter itu. Ada beberapa etika tak resmi yang mudah diterobos di FB, tapi tidak dengan twitter.

Bagaimana dengan blog? ah, blog adalah ajang suka-suka…ajang saya berkreasi menulis dan lucu-lucuan dengan keluarga.

Selain FB dan twitter, saya belum berminat untuk sign up ke socmed lain. 2 itu aja gak keurus, apa kabar ternak yang lain? 😉

Sekali lagi, socmed bukan agama. Seperti hak milik, tergantung bagaimana kita bijak memperlakukannya.

Kembali lagi, ini masalah pilihan.

Budina

Advertisements