Tags

,

Tak ada yang memungkiri kalo #FirstWorldProblem buat wanita adalah BB. Ya Blackberry, Ya Bau Badan, Ya Berat Badan. Complicated. Tau sendiri kalo cewek kebanyakan drama, apa-apa dimasalahin. Ini kok lama2 saya nyerang kaum sendiri ya

*dipentung aktivis feminisme*

Soal yang terakhir yaitu Berat Badan, menempati ranking pertama kegalauan para wanita. Gak usahlah ngomongin orang, pengalaman sendiri saja. Sejak kecil sampai punya anak 1, badan saya masih langsing. Meskipun makan dengan porsi orang kalap, dengan tinggi sedengkul (sedeng dirangkul *tsah), berat badan saya masih bisa dibilang proporsional. Pake baju apa aja, pede abis. Se-pede ketek pake rexona tentunya. *bukan kalimat berbayar*.

Nah, setelah punya anak 2, mulailah hukum rimba berlaku. Badan melar di segala penjuru. Meskipun masih sexy tidak sampai kayak bola digelindingin, tapi karena terbiasa langsing, masalah ini bikin galau juga. Pada akhirnya saya memutuskan untuk DIET. Ketika saya sampaikan ke orang-orang terdekat, hampir serempak mereka bertanya

“SERIUS LOE MAU DIET???”

Nada melecehkan yang sama saat saya sedang serius dan mereka menanyakan :

“LOE GAK SALAH MINUM OBAT KAN, DIN?”

 == backsound : Ibu Tiri ==

“Betapa malang nasibku…..

Karena dianggap wagu….”

 

@@@

Dari sekian banyak pilihan diet, saya pilih diet bernama **tetottt, disensor**. Inti dari diet ini adalah, tidak makan nasi selama 2 minggu, tapi diimbangi dengan makan sayur, buah, dan rebus-rebusan daging yang tak berbumbu sama sekali.. Saya sendiri, sukses menjalani 2 minggu dengan selamat sampai tujuan. Turun sih sampai 5 kg, tapi karena makan kayak babi menggila lagi, ya akhirnya naik lagi.

Saya gak mau cerita tentang perdietan, karena ujung-ujungnya menggurui. Saya kan bukan guru, tapi kepsek *halah*. Ada sisi lain yang ngehek dari proses perdietan itu :

 

MENU JOMPLANG BIN KONTRAS

Ada hari dimana menu siang hari adalah buah segar dan sayur rebus, sedang malamnya adalah DAGING REBUS. Selaper-lapernya saya, makan DAGING REBUS TANPA BUMBU gak pernah ada dalam list pilihan.

Memang ya, hidup itu bagaikan roda. Kadang di atas, kadang di bawah…kadang juga dipipisin anjing kompleks. Siang makan bak raja surgawi, malem bak dicemplungin ke neraka jahanam karena makan daging yang RASANYA KAYAK SANDAL JEPIT!….. *huekssss

 

LIDAH SESEKALI PERLU DIMANJA 

Saat menjalankan proses diet, badan saya tidak lemas sama sekali. Mungkin karena menu nya seimbang kali ya. Masalah yang menyiksa cuma satu, LIDAH PAHIT !

Porsi gula yang sangat sedikit dan menu tak yang tersentuh garam sama sekali, menyebabkan lidah saya sedikit susah membedakan rasa. Nyaris mati rasa. Mungkin kalau diibaratkan mata, saya jadi tak bisa membedakan, mana VAN PERSIE dan mana TUKUL… *siwer stadium gak ketolong*

 

JANGAN MAKAN ENAK DI DEPAN ORANG DIET!!!

Ada baiknya kalo lagi hang out sma temen, tanyakan dia sedang diet atau tidak. Ini adalah cara aman agar kamu segar bugar di kemudian hari. Saat saya sedang diet dan makan siang dengan MENU SANDAL JEPIT (baca : daging rebus tanpa bumbu), teman saya pesan KWETIAU GORENG yang porsi dan bau wanginya bikin emosi. Temen saya asyik ngajak ngobrol dan otak saya pingin bikin rencana pembunuhan gak konsen. Berhadapan dengan kwetiauw goreng tapi hanya dibolehkan makan sandal jepit itu layaknya kita lagi KONDANGAN KE KAWINAN MANTAN!

*pisau dapur mana pisau dapur??*

== backsound : TENDA BIRU ==

“Tak percaya, tapi ini terjadi….

Kau bersanding, duduk di pelaminan…”

 Note : teman pulang dengan selamat, tapi saya masih dendam kesumat #SadisBerima

 

@@@

Ya sudah, mungkin saya memang tak jodoh dengan namanya diet-dietan. Toh biar gemuk, yang penting kece sehat kan?? Aminnnn

BUDINA

Advertisements