Tags

Beberapa teman memberi merk di jidat saya sebagai “pelit”. Sebelum saya tersungging senyuman, di otak saya berderet kata yang memiliki arti yang sama. Ada “hemat”, “irit”, “perhitungan”, “tidak boros” dan “pelit”. Entah kenapa kasta terendah disandang oleh kata “pelit”. Ingat, dalam kata tak ada kasta. Kasta hanya boleh dimiliki oleh gigi. KASTA GIGI *dagelan lawas, plesetan

@@@

Nah, kalau yang ini cerita waktu saya masih menjadi mahasiswi. Sebagai anak kost, mengeluarkan modal sekecil mungkin dan memperoleh laba sebesar mungkin telah merasuk ke dalam jiwa raga kami. Prinsip ekonomi itu begitu teguh kami pegang (tapi tidak dengan nilainya, hehe) sampai kelak menuju gerbang kedewasaan.

Tak heran waktu itu warung makan sejenis “BAHARI, “BAROKAH”, “TEGAL JAYA” begitu melekat di hati. Selain karena persamaan selera lidah, persamaan bahasa memegang peran penting dalam proses meminta jatah lauk lebih *niat*, dan yang terutama…BISA NGUTANG (itu bukan saya). Dompet kami tak kenal dengan yang namanya “SALERO MINANG”, “ANDALAS”, “SIMPANG RAYA” dan semacamnya. Kalau nekat makan di situ melulu bisa-bisa gak ada jatah nonton sama pacar tiap malam mingguan (halah!).

@@@

Nahh…kalo di kost-an putri tempat kami, info dibukanya warung makan yang baru pasti jadi cerita yang menarik.

“hai sis (cieh gaya)……. ada kantin baru tuh…” kata seorang teman mengabarkan

Dan pertanyaan berikut yang pertama muncul bisa dipastikan adalah….

“MURAH GAK???”

Ehm…dibandingkan pertanyaan seperti “dimana?”, “enak gak?” dan lain-lain, kata itu menjadi keywords untuk melanjutkan pertanyaan selanjutnya…

“murah kok, nasinya gak dihitung…” kata teman tadi, menambahkan.

Berbondonglah kami cewek-cewek cantik ini menuju tempat yang dimaksud. Setelah ritual makan selesai, kami menuju ke area paling tak mengenakkan, tempat kasir….satu persatu kami mengantri untuk membayar…

Kebetulan saya ada di giliran pertama…

“jadi : nasi, sayur asem, tempe, perkedel, telur bulet, kerupuk dan es teh manis (ebuset, ini makan apa kalap?) total sekian ribu sekian ratus rupiah” kata mbak kasir, mantap

“loh mbak, katanya nasinya gak dihitung?” saya protes

“lah, ya gak dihitung, coba mbak sekarang hitung nasinya satu persatu, bisa lebaran kucing mbak bayar ke saya…” jelas si mbak, guyon.

*Teman-teman di belakang saya ngikik penuh kepuasan*

Sungguh lawakan yang terdengar sangat tidak lucu saat saya harus mengeluarkan uang ekstra….

@@@

Tunggu, perang belum usai. Batas juga ada sabarnya. Masih ada kok cerita satu lagi…

Masih cerita masa kuliah. Ini perbincangan antar cowok. Pacar (sekarang suami) *diperjelass* memberitahu temannya bahwa ada sebuah kost-an baru dimana pemilik kost selain memiliki penyewaan kamar juga mempunyai warung makan. Sebut saja nama warungnya “Yu Nani” (bisa dibaca sambung biar keliatan keren).

Bro, denger-denger kost di Yu Nani MURAH loh…” kata pacar

“Oh ya? apalagi dia punya warung makan ya, bisa makan di dalam tuh, gak usah pusing cari makan di luaran” tukas temannya yang lain, excited

(Just info : istilah makan di dalam berarti pemilik kost juga menyediakan makan bagi penghuninya)

“Iya murah, kost disana makan di dalam cuma sekian puluh ribu rupiah sebulan loh…” semakin berapi-api sang pacar

“Ahhh yang bo’ong??” teman-temannya tak percaya

“Iya, sekian puluh ribu rupiah sebulan, MAKAN DI DALAM, TIDUR DI LUAR….”jawab pacar, gokil.

*sandal jepit swallow pun berhamburan ke hadapan pacar*

-Budina-

Advertisements