Tags

, , , ,

WISATA KULINER

Singgah ke suatu daerah, rasanya kurang lengkap tanpa mencicipi makanan khas daerah tersebut. Negara Indonesia yang terdiri dari beberapa pulau yang masing-masing terpisah oleh laut ini memiliki keanekaragaman yang luar biasa biasa. Begitu banyak dan beragamnya daerah di Indonesia, sehingga masing-masing makanan tradisionalnya juga punya keunikan tersendiri.

Bagi pendatang, mencicipi makanan baru tentu akan menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan. Disitulah hadir istilah WISATA KULINER. Beragam pilihan tempat dan masakan ditawarkan untuk memenuhi hasrat icip-icip tersebut. Bila memiliki budget lebih, bisa tak ada salahnya mencoba mampir ke sebuah restoran dan mencoba berbagai masakan. Bagaimana bila bila dana pas-pasan? jajan di pinggir jalan adalah jawabannya.

Laksa Gang Aut, Bogor

Laksa Gang Aut, Bogor

MENGAPA ADA STREET FOOD ?

Street food atau jajanan pinggir jalan akhir-akhir ini semakin booming dan menjadi trend. Selain karena faktor utama yaitu harga yang terjangkau, banyak alasan mengapa masyarakat sekarang lebih suka jajan di luar. Tak punya keahlian memasak, alasan kepraktisan karena tak sempat memasak, hanya memuaskan keinginan saja dan masih banyak alasan lain. Meskipun higienitas sempat menjadi isu utama timbulnya penyakit, tapi itu tak menyurutkan minat masyarakat untuk tetap jajan di luar.

STREET FOOD TAK LAGI KELAS DUA

Kalau dulu jajanan pinggir jalan seperti ditujukan untuk masyarakat kelas dua, sekarang arah angin sudah berputar haluan. Pernah dengar yang namanya nasi kucing? Nasi dengan porsi yang sedikit dengan lauk sederhana ini biasanya dijual di angkringan untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. Biasanya dijual di malam hari, agar mereka yang mencari nafkah tengah malam tetap bisa mengisi perut apabila lapar melanda. Sekarang, nasi kucing tetap dijual di pinggir jalan, tetapi konsepnya sudah mulai berubah. Angkringan ditambah dengan fasilitas wi-fi, membuat anak muda betah hang out di sana.

Kue Bantal dan Cakue

Kue Bantal dan Cakue

STREET FOOD SEBAGAI TEMPAT BERGAUL

Pemilik mobil pun sudah tak malu lagi jajan di pinggir jalan. Tak ada bangku tersedia, mereka rela makan di atas mobil. Berbaur dengan masyarakat kelas bawah, street food tak ubahnya seperti alat pelebur kesenjangan status sosial. Di beberapa daerah di Indonesia seperti Aceh, kedai kopi adalah tempat dimana orang bisa berbaur, menyatu, memperbincangkan apa saja, dari keseharian termasuk hal yang berat seperti politik. Dari situ timbul yang dinamakan dengan obrolan warung kopi.

TRANSMIGRASI KULINER

Kembali ke jajanan tradisional, ada yang bilang bahwa makanan kampung halaman itu ngangenin. Pengusaha yang jeli tentunya tak akan menyia-nyiakan peluang ini. Bisnis transmigrasi kuliner pun dilakoni. Demi melihat tak ada Gudeg seenak daerah asalnya, mereka membuka warung Gudeg di Jakarta. Bagi konsumen, ini jelas menguntungkan, tak perlu jauh-jauh pergi ke Yogyakarta, dengan makan makanan klangenan, kangen pada kampung halaman sudah sedikit terobati. Kuliner nostalgia, begitu istilahnya.

Seupan Tales Ketan Wangi, Jl. Suryakencana Bogor

Seupan Tales Ketan Wangi, Jl. Suryakencana Bogor

INOVASI DAN BRANDING

Dulu, pedagang makanan tradisional juga tak mengerti nilai tambah dari jualan mereka. Mereka menjual makanan itu dengan apa adanya. Contohnya adalah Lekker dari Semarang. Makanan seperti crepes ini awalnya hanya berisi pisang dengan campuran gula, coklat meses dan sedikit susu. Dipanggang di atas wajan kecil dengan anglo panas, dijual dengan gerobak dorong sederhana dan hanya dapat ditemui di bundaran Simpang Lima Semarang pada minggu pagi. Sekarang, penjual sudah tahu apa itu inovasi. Lekker yang tadinya sederhana, sekarang ditambah dengan berbagai varian rasa. Penambahan keju, saus kacang, nangka dan sebagainya memberikan banyak pilihan untuk pembeli. Bagi penjual, adalah keuntungan bagi mereka karena bisa menjual produknya dengan harga lebih tinggi. Tak hanya soal rasa, pemberian brand dari produk dan penentuan tempat pun lebih mereka perhatikan. Dengan brand yang eye catching dan mudah diingat, produk mereka lebih mudah dikenal. Pembeli juga lebih mudah mencari bila tenda tempat mereka mangkal mudah ditandai.

Kue Rangi dan Kue Pepe, Jl. Suryakencana Bogor

Kue Rangi dan Kue Pepe, Jl. Suryakencana Bogor

MEDIA PROMOSI

Promosi yang dulu dilakukan hanya dari mulut ke mulut, sekarang sudah bukan masa nya lagi. Melalui internet, pedagang pintar berpromosi melalui sosial media, forum-forum milis, blog dan sebagainya. Dengan hanya sekali klik browsing di dunia maya, informasi yang konsumen cari tersedia di depan mata.

KONSEP DELIVERY SERVICE

Kepingin jajan tapi males ke tempat tujuan? Tak ada hal yang tak mungkin. Jajanan bisa dipesan dengan cara delivery service. Jangan salah, ini bukan hanya berlaku untuk street food yang mangkal . Untuk pedagang keliling yang mencari pasar dengan cara menjemput bola dengan mendatangi konsumennya, meski tak semua, beberapa dari mereka ada yang pintar menangkap situasi. Dengan meninggalkan nomer handphone mereka kepada konsumen, saat diperlukan mereka bisa datang sewaktu-waktu. Sungguh konsep delivery service dalam arti yang sebenarnya.
STREET FOOD IMPOR TURUN KASTA?

Bagaimana dengan bisnis street food makanan impor? Kebalikan dengan jajanan tradisional yang naik kelas, makanan impor sekarang lebih down to earth. Dengan menurunkan sedikit eksklusifitasnya, mereka turun ke jalan untuk mencari pasar yang lebih luas. Banyak makanan impor dijual di pinggir jalan dan dibeli oleh berbagai kalangan. Turun kasta? tidak juga. Sebagaimana hukum pasar berlaku, ada permintaan maka ada juga penawaran, penjual dan pembeli saling membutuhkan. Pembeli diuntungkan. Tanpa merogoh kocek terlalu dalam seperti biasa yang dikeluarkan saat di restoran, mereka bisa makan makanan impor sesuai keinginan.
Tak semua makanan impor sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia. Layaknya musik, kolaborasi kadang dibutuhkan agar harmonisasi tercipta. Dengan trik dan terobosan tertentu, padu padan makanan impor dengan bumbu khas Indonesia pasti memberi sensasi rasa yang tak biasa. Selain menekan budget, bagi pengusaha kemungkinan dagangan laku terjual ada di depan mata.

@@@

Bisnis kuliner adalah bisnis yang hampir tak pernah mati. Hilang satu, tumbuh seribu, makin variatif, makin inovatif. Selama manusia itu hidup, selama itu pula mereka membutuhkan makanan. Keberadaan street food dengan beragam keunikannya, akan terus membuat roda ekonomi Indonesia berputar.

Budina

Advertisements